"Kamu itu siapa?
Seniman bukan. Musisi bukan. Ekonom bukan. Ilmuwan sosial bukan. Entrepreneur bukan. Ahli bahasa bukan. Penulis juga bukan.
Bukan apa-apa.
Mungkin kamu cuma manusia kulit kacang.
Punya banyak kulit-kulit kacang tapi gak ada yang ada isinya: kacangnya itu sendiri.
Dangkal.
Lapis luar doang."
Thursday, August 29, 2013
2. —
"Entah mengapa saya punya kecenderungan untuk menyukai penulis-penulis depresif-suicidal yang ujung-ujungnya membunuh diri mereka sendiri. Sebutlah diantaranya Ryunosuke Akutagawa dan David Foster Wallace.
Mereka, mungkin, jika dikonversikan tulisan-tulisan mereka menjadi kanvas, akan dipenuhi dengan abu-abu. Abu. Abu. Kelabu.
Mungkin, walau rasanya tak begitu, mereka bisa melihat keindahan dalam kebobrokan-kerusakan-kebodohan kita para manusia modern.
Atau mungkin lebih tepatnya mereka sudah muak saja dengan semua itu."
Mereka, mungkin, jika dikonversikan tulisan-tulisan mereka menjadi kanvas, akan dipenuhi dengan abu-abu. Abu. Abu. Kelabu.
Mungkin, walau rasanya tak begitu, mereka bisa melihat keindahan dalam kebobrokan-kerusakan-kebodohan kita para manusia modern.
Atau mungkin lebih tepatnya mereka sudah muak saja dengan semua itu."
1. Beban Moral
"Hari ini saya bertemu dengan, lagi-lagi, orang-orang yang membuat saya terbengong-bengong sapi ompong - namun bahagia.
Orang-orang yang membuat saya seolah seperti manusia terdungu, yang entah karena tidak pernah membuka inderanya, atau tak pernah membuka diri pada dunia —dan stuck pada ignoransi, atau dua-duanya.
Orang-orang yang bisa mengembalikan harapan dari bodoh-bodohnya kita, manusia.
Semoga semua tuhan-tuhan yang ada di muka bumi memberkati mereka."
Orang-orang yang membuat saya seolah seperti manusia terdungu, yang entah karena tidak pernah membuka inderanya, atau tak pernah membuka diri pada dunia —dan stuck pada ignoransi, atau dua-duanya.
Orang-orang yang bisa mengembalikan harapan dari bodoh-bodohnya kita, manusia.
Semoga semua tuhan-tuhan yang ada di muka bumi memberkati mereka."
Kata-Kata Shu Ju
...dari "Lukisan Neraka" Ryunosuke Akutagawa
"Kehidupan itu lebih bersifat neraka daripada neraka itu sendiri"
"Kehidupan itu lebih bersifat neraka daripada neraka itu sendiri"
Jakarta Agustus-September 2013
Berikut adalah tulisan-tulisan pendek yang saya tulis di buku catatan kecil yang saya bawa kemana-mana selama di Jakarta liburan musim panas ini. Silahkan buang jika tak sampai di hati
Tuesday, August 13, 2013
Pulang dengan Tangan Kosong, Hati yang Penuh: Kedai Lentera dan Jeff Buckley
Tahu perasaan ekstasi super exciting kayak waktu kita
menemukan tempat super keren? Bukan karena tempatnya super ‘wah’ atau gimana.
Tapi karena orang-orang ditempatnya atau cerita yang berputar di balik tempat
tersebut.
Baru tiga-empat kali saya berkunjung ke Kedai Lentera.
Selalu, tempat itu mengejutkan saya dan selalu bikin saya pulang dengan
bahagia. Di Kedai, saya menemukan orang-orang yang juga suka dan lebih ahli
dengan hal-hal yang saya suka, di konteks ini tentang ethnicity, budaya, dan
dunia.
Pernah bertemu sama orang yang suka hal yang sama dengan
kita, tapi saking mereka lebih ahlinya, kita sampai ngga ngerti apa yang mereka
omongin? Karena level mereka lebih tinggi daripada kita dan kita cuma bisa
bengong sapi ompong tapi bahagia dengerinnya.
Itu yang saya temuin di Kedai Lentera.
Terakhir kali saya ke Kedai Lentera (beberapa hari yang
lalu), saya berniat membawa teman saya yang berasal dari Jepang kesana untuk
ngobrol dengan pemilik Kedai Lentera. Kebetulan, teman Jepang saya itu seorang
‘nasionalis NKRI’ dan lagi bikin thesis tentang Indonesia paska-Soeharto.
Sementara si pemilik Kedai, saat saya berkunjung ke Kedai beberapa waktu
sebelumnya, bilang kalau ada film lawas tentang tentara Jepang yang membantu
orang Indonesia dalam merebut kemerdekaan, dia juga bilang tentang beberapa hal
berhubungan dengan Jepang dan
kemerdekaan Indonesia yang tidak tertulis dalam sejarah mainstream Indonesia.
Saya pikir, pas banget kalo mereka bisa ngobrol!
Tapi tampak jodoh belum bertemu, sang pemilik Kedai kebetulan
sedang juga kedatangan tamu dari tempat yang jauh dan sang turis Jepun juga
harus pulang cepat malam itu. Pertemuan yang mungkin bisa menjadi perbincangan
yang menarikpun batal terjadi.
Si turis Jepun dan beberapa teman lain pulang, saya dan satu
teman lagi tetap tinggal, bertukar kata setelah sekian lama tak jumpa.
Sering kali, kalau lagi pelesiran atau ngebolang entah
kemana, saya selalu berharap bisa ketemu orang random, berbincang tentang
hal-hal yang tidak bisa dibicarakan sehari-hari, menemukan pengalaman sederhana
yang menyentuh hati dari orang-orang tersebut.
90% nya, saya gagal menemukan ‘pengalaman’ tersebut.
Tapi malam itu adalah 10%nya. Lagi-lagi, Kedai Lentera
mengejutkan saya.
Di tengah-tengah obrolan saya dengan teman saya itu, tiba-tiba
saya dengar suara lengkingan khas.
Lagu Grace.
Jeff Buckley.
Serentak saya dan teman saya bersorak ria. Penasaran, saya
bertanya ke orang yang lagi jaga kasir dan ternyata benar, dia yang pasang lagu
tersebut. Kami akhirnya beranjak dari kursi dan nyamperin si penjaga kasir.
Saya bahkan sengaja minta salaman dua kali buat kenalan sama
dia, yang ternyata adik dari pemilik Kedai (tapi bukan yang ingin saya temukan
dengan si teman Jepun, ada satu lagi pemilik Kedai). Soalnya, bener-bener
bener-bener sedikit sekali orang yang suka sama Jeff Buckley. Ini bukan
persoalan hipster dan musik keren yang jarang orang dengar.. Musik,
ujung-ujungnya pasti cuma masalah selera, akumulasi situasi pengalaman dan
perasaan sang pendengar saat bertemu dengan musik tersebut, dan relatedness
musik tersebut dengan diri si pendengar saat itu.
Untuk saya, musiknya Jeff Buckley adalah contoh terkonkrit
dari teori tersebut.
Akhirnya, setelah kita bertukar nama, kita duduk bareng
(didepan meja kasir) dan bertukar pengetahuan tentang band-band favorit
sejam-dua jam. Bergantian kita memasang lagu-lagu dan ngobrol ringan
menyenangkan.
Malam itupun saya pulang dengan perasaan sederhana-bahagia
—‘pengalaman’ yang jarang saya temukan.
Oh ya, saya bukan buzzer (seperti banyak di twitter) yang ngepromosiin Kedai Lentera.
Ini benar-benar pengalaman personal. Mungkin kalau anda datang kesana tidak
akan merasa sama dengan saya.
Tapi tidak salah juga sharing tentang Kedai Lentera, mungkin
anda malah meng-experience tempat itu dengan lebih ‘wah’ daripada saya. Jadi
silahkan dicoba, Kedai Lentera berlokasi di Jl. Sawo Manila No. 10, Jati
Padang, Pasar Minggu. Dekat sekali dari Universitas Nasional dan Pejaten
Village.
Semoga berguna J
Wednesday, July 24, 2013
2014
2014.
Tampaknya akan menjadi tahun yang ‘menarik’, terutama di
Jakarta. Paling tidak, sampai 2-3 tahun setelahnya akan tetap begitu. Buku-buku
distopia yang pernah anda bacapun nanti tak akan sia-sia di pojokan rak buku
anda.
2014 akan menjadi tahun pemilihan presiden berikutnya, yang
akan menjabat selama 2014-2019. Lagi-lagi, kandidat-kandidat dari calon
presiden yang mencalonkan diri untuk pempres nanti terdiri dari muka-muka lama
—seolah hantu dari orde baru masih saja tak melepaskan diri.
Berbagai isu yang terjadi akhir-akhir ini, seolah memberikan
sedikit sneak-peek menuju Indonesia 2014 nanti. Saya rasa, semua orang sudah
tahu tentang FPI dan isu-isu yang diramaikannya. Dari soal siraman teh sampai
meninggalnya warga yang tertabrak mobil sweeping FPI. Semua orang juga tahu,
apa yang kita proteskan ke ‘negara’ dan kita juga tahu bahwa suara kita tak akan pernah didengar.
Tapi sudah kadaluarsa rasanya untuk tetap menghadapi dan
melihat FPI sebagai sekedar ‘grup garis keras’ —fundamentalis akar rumput yang
kelewat ‘keras’, dan berserah kepada mekanisme pertahanan kita dengan berpikir
‘Islam mereka ngawur, tidak seperti Islam kita. Islam kita cinta damai’.
Ada cara lain dalam memandang persoalan ini. Baiknya, kita hindari cara berpikir “siapa yang paling
benar” ini, terutama secara teologi, karena tidak akan berujung pada
penyelesaian (sementara di belakang, teman-teman yang ateis menertawakan kita
yang beradu ayat hanya untuk melakukan hal yang benar).
Kita tidak bisa sekedar menyalahkan persoalan FPI sebagai grup
yang ‘keras’ saja. Persoalan ‘grup fundamentalis’ lebih rumit dari sekedar
sekelompok orang yang memiliki pandangan agama yang kelewat keras. Ketika
membahas grup garis keras, kita harus juga melihat dari sisi sejarah, ekonomi,
dan sosial dari bagaimana terlahirnya grup-grup tersebut.
Tapi yang ingin saya umbarkan disini bukanlah tentang latar
belakang FPI.
Saya hanya ingin menyatakan ketakutan saya.
2014 dipenuhi oleh calon-calon presiden yang merupakan
produk orde baru. Dimana dua calon tersebut adalah petinggi militer yang
berkecimpung langsung dalam kejadian-kejadian dipuncak orde baru.
Prabowo dan Wiranto.
Jujur saja. Ini bukanlah tulisan yang objektif. Sebagaimana
tidak ada yang namanya jurnalisme yang objektif. Walau ini tidak layak dihitung
bagian dari jurnalisme, yang pasti tulisan ini subjektif. Subjektif pol-polan.
Dua hal yang saya
takutkan yang mungkin berdampak dari isu FPI ini yang mungkin akan mempengaruhi
pempres 2014 nanti:
Dibuatnya undang-undang yang melarang ormas (organisasi
masyarakat). Yang tak langsung juga akan membunuh kebebasan berpikir dan
berbicara bagi masyarakat. Tak cukupkah ruang publik yang telah direnggut oleh
pemerintah semenjak 1965 saat mereka memberantas PKI? Dengan kondisi kita sekarang
(di Jakarta), dimana taman dan ruang publik dimana orang-orang bisa berkumpul
dan bertukar pikiran, beraktifitas dan berbagi aspirasi, telah ditiban dengan
berpuluh-puluhan Mall. Apakah kita menginginkan kembalinya otoritas tangan besi
yang dengan senang hati membungkam pikiran dan suara kita?
Sekarang saja suara kita tidak pernah didengar. Bagaimana
nanti? Kalau berkumpul dan bertukar pikiran saja kita bisa dipenjara.
Hal lain yang ditakutkan adalah tentunya, dengan gamblang
dan lancang, adalah kembalinya sosok otoriter yang mengambil alih kursi
kepresidenan 2014 nanti.
Gejala Neo-Soehartoism, sebut saja, yang dimana masyarakat
ketakutan dengan segala kekerasan yang dilakukan grup sipil (non-state) dan mengelu-elukan kepemimpinan tangan besi
yang bisa menyediakan ‘keamanan’. Rindu akan sosok Bapak yang tersenyum yang
melindungi kita semua.
Ya tuhan..
Hanya butuh sosok musuh, untuk menyatukan kita semua. Coba
tengok Al-Qaeda yang terus samar —semua bisa jadi Al Qaeda. Mungkin besok,
tahun depan, mungkin di utara, selatan, mungkin ibu anda, selingkuhan anda,
atau siapapun —semua tergantung agenda sang penguasa yang mengaku pahlawan.
Tak perlu jauh liat ke negara seberang, kita pernah
melakukan hal yang sama dengan PKI. Tak perlu jauh lihat kebelakang sejarah,
kita melakukannya sehari-hari.
Kita berbaku hantam dengan SMA sebelah ketika mereka
terlihat lebih nyolot. Kita memusuhi
etnis lain ketika mereka lebih kaya secara ekonomi.
Tapi kita bersatu ketika tim sepak bola kita bertanding
dengan Malaysia!
Untuk negara mengeksekusikan ‘power’ mereka, tentu lebih
mudah jika ada ‘musuh bersama’. Kita berhasil melakukannya di 1965 dengan PKI.
Tidak menutup kemungkinan, modus yang sama akan dipakai nanti.
Dengan memaraknya kerusuhan yang dibuat oleh organisasi
kemasyarakatan semacam FPI, demand untuk keamananpun meningkat. Ketakutan kita
terhadap grup garis keras akan diseimbangi oleh proposal atau janji yang
menawarkan keamanan. Yang mungkin akan ditawarkan oleh pihak yang secara
struktural memegang keamanan (..baca: senjata) negara.
Dan hal tersebut bisa berujung kepada pemenjaraan pikiran dan ekspresi yang dikebiri, semua atas nama 'keamanan' palsu.
Tulisan ini tidak lebih dari asumsi, bukanlah prediksi, dan
hanyalah kegelisahan hati saya.
Saya pikir, 2014 akan menjadi awal dari periode baru yang
menarik, yang penuh akan masalah yang memuncak, kerusuhan, dan akan menjadi
periode dalam sejarah yang cukup menantang.
Untuk itu, sampai 2014 nanti, selamat menikmati setengah akhir
2013!
‘Menuju Indonesia Distopia 2014’
Subscribe to:
Posts (Atom)