Friday, July 4, 2014

Hush


You
are boring
as fuck.

Your politics and pseudo-intelectual stances are as boring as fuck.

Your music and your references are boring as fuck.
what are you trying to prove here?

Your stoical relationship with your parents are as fucked as your stoical relationship with yourself.

Your late night sentimental, lack of serotonin routines are as boring as fuck.

Your inability to express, your inconsistencies, your feelings.

"Only boring people gets bored"?

you're bored and you're fucked and you are bore-fucked in the fucking bored-ass fuck-bore-fiesta.

Thursday, June 19, 2014

Jangkung (Dialog Menuju Horor)

"Buat apa? Kalau sekolah mahal-mahal, cuma buat ngebunuh pikiran lo pelan-pelan? Semuanya dipenjara, dibumiratain... dibikin mati rasa. Ini nih, didalem kepala: mati rasa! Gue maunya pikiran gue diliberasi, bukan malah dipenjara!"

Remi mengetuk kepalanya berkali-kali dengan telunjuknya tak tahan mengekspresikan perasaannya secara non-verbal. Tarin, yang sedikit puyeng melihat Remi yang sekarang tak berhenti menggelengkan kepalanya sembari bergumam sendiri, membuka pintu kamar dan segera menaruh tasnya. Remi menyusul masuk teman sekontrakannya tersebut dan langsung duduk dan menyalakan rokoknya.

"Yah... emangnya lo udah siap, Rem? Beban moral orang yang udah 'tercerahkan' pasti berat, bro... Lo inget kan, kata siapa tuh... Vivekarya apa siapa itu namanya, yang bilang: The act of liberation is a deliberately painful process."

"Ya tapi tetep ajalah, Tar! Ngapain lo ngerepotin keluarga lo dan diri lo sendiri, cuma buat ngebodohin diri lo sendiri?"

"Nggak gitu jugalah, men. Tiap lo belajar pastikan nambah sesuatu di ilmu lo. Ngga ada yang namanya ngurangin."

"Tapi yang ditambahin itu apaan? Lebih kayak manual biar lo makin jadi onderdil. Onderdil dari mesin yang bobrok, karatan, rongsokan kayak motor-motor modol bayar kredit pinggiran jalan. Hah!"

"Lo udah liat sendiri kan di kelas tadi gimana sejarah institusi akademik itu muncul. Dan lo sadar nggak? sebagian besar dari perkembangannya dunia akademik aja, didasari bukan sama niat untuk nge-liberasi pikiran orang. Okelah, cerainya filosofi sama sains ngga masuk itungan. Tapi sisanya? Developmental studies aja deh misalnya. Awalnya dari apa sih? Area Studies. Area studies ya cuma nama halus doang dari Oriental Studies! Yang dulu pas jaman itu dibuat sama 'orang Barat' dengan pandangan kalo 'non-Barat' itu BEDA. Entah lebih kotor, primitif, atau apalah. Pokoknya kita nggak bisa pisahin, bahkan dari dunia akademik, dominasi kuasa dan dua kata favorit lo itu..."

"Apaan? class struggle?"

"Iye." Tarin membuka layar laptopnya, diam-diam meng-google definisi dari class struggle tanpa sepengetahuan Remi.

"Ya terus sekarang gimana, Tar! Lo udah tau-- bukan deh, lo sekarang bisa ngeliat dari sudut pandang yang berbeda. Lo secara sadar, tahu kalau, sekarang neh edukasi yang lagi lo jalanin ini neh, adalah bagian dari sistem yang didasari dengan tujuan untuk mendominasi, tujuan untuk eksploitasi. Lo secara sadar tahu kalau lo 'dididik' untuk jadi robot: bahwa manusia yang fungsional itu adalah yang bisa ngesustain, ngenyanggah, sistem bobrok yang ada sekarang. Dan lo terima-terima aja?"

"Rem, nggak ada gunanya cuma main nunjuk-nunjuk, fingerpointing keburukan sistem yang ada. Ngga ada gunanya nyalahin Kapitalisme, kalo lo sendiri itu bagian dari Kapitalisme juga...

Oke, gini deh, Rem. Ini gue sendiri juga nggabisa jawab, atau bahkan emang bukan untuk gue jawab kali. Lo lebih memilih jadi yang mana: Yang ignoran, ngga tahu apa-apa dan bahagia; atau yang tahu, mencari tahu dan terus menggali, tapi semakin dalam semakin kesiksa karena ke-tahu-an lo itu?"

"...ya jelas yang kedua, lah!"

Akhirnya keduanya terdiam. Hanya asap rokok dan suara getaran kipas angin di pojokan kamar tersebut. Mereka berdua tak tahu, bahwa sedari tadi di pojok tersebut juga, sosok yang jangkung hampir menyentuh langit-langit dan berkepala putih tanpa muka dengan hitam di bagian badannya; diam tanpa sedikitpun gerak di badannya, berdiri menghadap ke arah mereka. Memerhatikan dengan seksama.

-

“The so-called ‘psychotically depressed’ person who tries to kill herself doesn’t do so out of quote ‘hopelessness’ or any abstract conviction that life’s assets and debits do not square. And surely not because death seems suddenly appealing. The person in whom Its invisible agony reaches a certain unendurable level will kill herself the same way a trapped person will eventually jump from the window of a burning high-rise. Make no mistake about people who leap from burning windows. Their terror of falling from a great height is still just as great as it would be for you or me standing speculatively at the same window just checking out the view; i.e. the fear of falling remains a constant. The variable here is the other terror, the fire’s flames: when the flames get close enough, falling to death becomes the slightly less terrible of two terrors. It’s not desiring the fall; it’s terror of the flames. And yet nobody down on the sidewalk, looking up and yelling ‘Don’t!’ and ‘Hang on!’, can understand the jump. Not really. You’d have to have personally been trapped and felt flames to really understand a terror way beyond falling.”

- DFW

Wednesday, June 4, 2014

Awas! Ada Taik O'ong di Wajah Anda!

*Tulisan berikut akan cukup vulgar dan bau layaknya comberan*

Akhir-akhir ini anda bisa dengan mudah menemukan diri anda dihantam bertubi-tubi dengan hiburan vulgar lima tahunan sekali: gelut calon presiden.

Entertainment semacam inilah yang tampaknya ber-rating tinggi. Hiburan vulgar seperti inilah yang bisa membangun kebersamaan kita, berkumpul bersama kawan, menertawakan orang-orang yang saling ribut menjelekan capres tim lawannya.

Tentu tak hanya tawa, anda juga mungkin merasa muak, geram, dan gatal ingin menggaruk sampai kulit kepala anda bolong.
Mungkin harusnya para pelaku politik Indonesia membuat sebuah deal dengan produser tv-tv lokal untuk membuat acara-acara tv baru dan mereka bisa menambah pendapatan mereka dengan berbicara dan beradu bullshit di acara-acara tersebut (Apa memang malah sudah?). Lumayankan, entertainment semacam ini toh laku keras tak hanya di tv tapi juga di internet, seperti di youtube misalnya.

Di dalam hiburan-hiburan vulgar tersebut, banyak tentunya yang berisikan kampanye visi misi program dan tetek bengek slogan masing-masing kandidat. Dan hanya dari kampanye tersebut itu saja, kita bisa menarik sedikit gambaran tentang kita sendiri sebagai sebuah masyarakat: seperti apa hal yang kita ingin lihat untuk terjadi? Apa pandangan kita terhadap isu-isu —entah isu lingkungan, netralitas internet, HAM, energi, atau lainnya— dan isu mana yang benar-benar kita prioritaskan terdahulu? Seperti apakah keinginan kita sebagai sebuah masyarakat?

Hal lain yang bisa kita lihat juga dari bagian arus kampanye-kampanye tersebut, adalah narasi yang mereka pakai dalam berkampanye. Sering kita menemukan sebuah premis atau asumsi, bahwa generasi anda dan saya itu apatis. Tak peduli dengan negara sendiri; merasa kalah dengan negara lain dan ingin tinggal disana saja; cuma bisa mengumbar kejelekan-kejelekan tanpa tau prestasi negara, dan lain-lainnya.

Entahlah... tapi narasi semacam inilah yang selalu menutup-nutupi kepingan wajah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Maksud saya, bagaimana dengan mereka yang menganggap bahwa pemilu bukanlah satu-satunya cara untuk berdemokrasi? Yang tidak mau hanya senang diberi kesempatan lima tahun sekali, lalu disisanya tetap menjadi budak dan tak bisa turut andil, apa lagi bersuara di dalam negara.

Atau mereka yang tak pernah berpikir untuk tinggal di negara luar karena lebih bagus daripada Indonesia... tapi karena mereka tahu bahwa konsep negara hanyalah konstruksi sosial dan bagian dari tahap laju sejarah —masyarakat yang berkembang dari kecil: tribal, menuju agrikultural, lalu menuju skala besar dan massal: Industrial, dan seiiringan dengannya, muncul konsep Nation-State dan lahirnya identitas kebangsaan. 'Anda adalah apa yang tercetak diatas kertas-kertas itu, yang bernama paspor'.

Atau yang sinis, kalau bukan lagi skeptis, terhadap apa yang muncul di permukaan? Bahwa ada sesuatu yang tercium busuknya dibalik permukaan yang terlihat, meski kita tak tahu pasti apa itu.
Bahwa siapapun yang menang nanti, di belakangnya akan tetap ada mereka —entah mereka yang ada di meja legislatif atau diluar itu— yang ujung-ujungnya tetap merekalah yang akan menentukan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan mereka (terciumkah bau dari partai oposisi berwarna biru dan bagaimana posisi mereka memberi pengaruh pada penentuan kebijakan-kebijakan nanti?). Bahwa semua milih-memiluh ini hanya omongkosong formalitas skala nasional.

Jarang kita bisa menemukan refleksi wajah masyarakat kita yang seperti itu di dalam arus hiburan vulgar ini.

Satu hal yang pasti, wajah yang terefleksikan dari masyarakat kita di permukaan, mungkin juga akan terefleksikan di sang pemenang pemilu nanti.

Masyarakat yang fasis, akan melahirkan pemimpin yang fasis, yang tak akan mengerti dan menghargai perbedaan.
Masyarakat yang buta akan masa lalunya, akan melahirkan pemimpin yang terus menutup-nutupi masa lalu.
Masyarakat yang otaknya mentok di pemilu, akan melahirkan pemimpin yang nggak akan mendengar saat sudah bukan pemilu lagi.
Masyarakat yang tolol akan terus 'melahirkan' pemimpin saja, bukannya malah memimpinnya sendiri.

Ada benarnya juga yang pernah diungkapkan Hans David tentang masyarakat dan pemimpinnya.

Pejabat atau orang-orang yang kita sebut sebagai 'pemimpin' itu pada dasarnya (atau seharusnya) hanyalah pelayan publik.
Tapi kalau yang dilayani saja kampret, masa berharap dilayani sama orang yang baik dan pantas?


Tuesday, April 8, 2014

Mungkin kamu itu Borges

Kalau Kamu adalah

semua orang yang pernah bersamamu

semua buku yang pernah kamu baca

semua musik yang pernah kamu dengar

semua puisi yang pernah mengoyak kiri dada

semua hujan yang memanen rindu

semua harimau sumatra yang muncul dalam mimpi lelapmu

Lantas siapa kah Kamu?

Monday, March 10, 2014

Golongan Hitam dan Pemilu 2014



Pemilu 2014 sudah semakin dekat dan beberapa teman saya mulai bertanya bagaimana cara mencoblos jika tidak berada di Indonesia. Untuk para perantau yang sedang tinggal diluar Indonesia, saya dengar ada caranya —entah lewat pos atau apa, saya tidak mengikuti tata caranya. Karena saya pribadi memilih untuk tidak memilih pemilu 2014 (dan mungkin pemilu kapanpun).

Ha? Ngga nyoblos? Lo apatis? Ngga peduli sama negeri sendiri? Nanti jatah suara lo dipake buat manipulasi jumlah suara lo rela? Dan seterusnya, tanggapan-tanggapan atas pilihan untuk tidak memilih.

Kesannya mereka yang tidak memilih adalah orang yang jahat disini. Sebelumnya agar lebih mudah, izinkan saya menyebut mereka yang tak memilih menjadi dua kategori yang berbeda: Golongan Putih dan Golongan Hitam.

Lalu apa yang sebenarnya yang membuat mereka-mereka ini menjadi Golongan Putih/Hitam? Dan apa yang membedakan dua golongan tersebut? Mari kita ulas lagi premis-premis yang ada di perbincangan ‘memilih untuk tidak memilih’ ini.

Dengan memilih=membawa perubahan/aspirasi

Secara pribadi saya tak percaya bahwa sistem pemilu mampu mewakili aspirasi kebanyakan dari kita. Karena sistem tersebut berfondasi pada pengeksekusian policy-policy yang sifatnya top-bottom, bukan Bottom-Top. Contoh sederhana yang bisa saya berikan tentang Bottom-top, ironisnya justru tidak nyata terjadi: jika seandainya Car Free Day di Jakarta bukanlah keputusan pemerintah, tapi berawal dari gerakan kecil grup-grup masyarakat yang, sebut saja environmentalist, lalu dari gerakan kecil tersebut berkembang jadi policy official yang diangkat oleh pemerintah.

Berangkat dari cara pandang ini, asumsi bahwa dengan memilih calon presiden yang ada akan merubah kondisi Indonesia, sangatlah absurd dan insignifikan. Apalagi melihat kandidat-kandidat capres yang ada sekarang —semuanya tak lepas dari rezim Orde Baru.

Disinilah yang membedakan Golongan Putih dengan Golongan Hitam.

Apatisme

Apatisme ala Golongan Putih didasari oleh rasa ignoran dan absennya kesadaran politik-aktif. Tag-line yang sering keluar dari mulut Golongan Putih: “Gue jijik/muak/benci politik,” atau, “Gue apolitis” —pada dasarnya sangatlah kontradiktif. Menjadi ‘apolitis’, dengan sendirinya adalah sebuah pilihan yang politis.

Sama halnya dengan daya beli konsumen adalah pilihan yang politis. Contoh gampangnya adalah: Cabai. Saya akan memakai sedikit imajinasi dan pengandaian disini.

Jika semua konsumen di Pulau Urban memilih untuk tidak membeli cabai-cabai yang diproduksi dari Pulau Cabai dan lebih memilih sambal-sintetisnya PT. Karainomoto, maka para petani yang menumbuhkan cabai tersebut tak bisa menjual hasil panennya. Supply-Demand pada dasarnya. Maka para petani cabai pun kehilangan mata pencahariannya dan mungkin kepunahan cabai asli Pulau Cabai.

Jadi pada intinya, semua pilihan kita adalah pilihan yang politis.

Sementara itu di lain pihak, pilihan para Golongan Hitam untuk tidak memilih didasari bukan oleh apatisme terhadap apa yang terjadi pada Indonesia. Tapi atas kesadaran bahwa memilih tak akan mengubah apa-apa. Dan bahwa ada cara lain untuk mengubah kondisi kita sekarang, salah satunya adalah dengan cara Bottom-Up tadi. (Tentu perlu diingat, yang saya sebut sebagai Golongan Hitam belum tentu memiliki visi, cara, dan aspirasi yang sama —jadi belum tentu punya opini yang sama tentang Bottom-Up.)

Keputusasaan terhadap para Kandidats Gendats

Mari kembali kepada kandidat-kandidat capres 2014. Kandidat yang populer, kecuali Jokowi dan mungkin beberapa yang lain, adalah penerusan dari rezim Orde Baru Soeharto. Susah sekali rasanya untuk tidak berpikir bahwa Pemilu yang berikut ini bukanlah ajang rebutan kekuasaan para elit lama. Apakah kita harus tetap denial dan tetap memilih? Bahwa memilih yang paling tidak salah dari pilihan-pilihan salah adalah keputusan yang bisa kita ambil?

Lalu apa bedanya antara pemilih in-denial dengan Golongan Putih? Saya rasa tak ada.  Pemilih in-denial memutuskan untuk memilih kandidat yang ada karena rasa putus asa terhadap capres-capres tersebut. Secara tak langsung, Ia mengatakan bahwa kita harus dependen kepada para Pemimpin (baca: para Elit) —meskipun pemimpin-pemimpin tersebut salah semua dan tak ada yang bisa mewakili aspirasi kita. Dan dengan rasa putus asa tersebut, kita harus memilih yang “paling tidak salah” dari semuanya.

Disinilah Golongan Hitam berdiri dan menancapkan bendera hitamnya. Bahwa ada cara selain terus terbawa sistem yang sudah ada sebelumnya. Dan itu dimulai dari kesadaran untuk tidak memilih —tanpa menjadi apatis terhadap yang terjadi. Sebuah bentuk civil disobedience.

Saya sendiripun merasa, Golongan Hitam juga terjebak dalam rasa keputus-asaan. Karena yang mereka bisa berikan untuk membawa perubahan, kebanyakan hanya berskala kecil —jika dibandingkan akumulasi power para elit dengan wewenangnya dalam membuat policy dan mengatur kuasanya.

Tapi diatas rasa putus asa tersebut, Golongan Hitam mengajak agar kita berhenti terbuai ilusi para elit, berhenti memilih dalam denial, berhenti untuk menjadi apatis. Untuk menampar muka kita sendiri dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Tentunya, anda para pembaca bisa menyadari bahwa tulisan ini didasari oleh rasa putus asa dan pengandai-andaian yang berlebihan. Utopian dan tak masuk akal. Tapi jika menjadi masuk di akal adalah tetap ignoran dan menutup mata atas apa yang sebenarnya terjadi, bukankah menjadi tak masuk akal lebih baik?

***


Dalam analisis yang ditulis oleh AE Priyono, dipaparkan lebih jelas bagaimana jumlah suara golput dari tahun 1999 sampai 2009 terus bertambah dan selalu menang dalam pemilu. Silahkan dilihat dan dibaca disini: http://indoprogress.com/2014/02/golongan-putih-dari-alienasi-ke-oposisi/

Friday, March 7, 2014

Let's #SaveSomething everytime we click it and do it again tomorrow. and tomorrow. and tomorrow


Semakin banyak sekali video-video pendek yang beredar di internet —yang mampu menyentuh, mendorong, dan menendang sedikit kesadaran kita. Entah itu berbentuk inspirasional, semacam video ala “TEDx” misalnya, dimana  perempuan terjelek di dunia berbagi kisah mengharukannya.

Atau video-video yang saya label sebagai video #SaveSomething —dimana biasanya memakai formula: kalau [masalah ini yang hanya mungkin terjadi tempat-tempat ini] kita simulasikan untuk terjadi pada [orang-orang yang demografinya adalah target audiens yang tak kena dampak] atau vice-versa. Seperti video #SaveSyriaChildren, #SaveWater, dan #Save-SaveLainnya.

(Trivial: sepertinya terutama untuk video-video #SaveSomething, tampaknya menarik untuk di baca dengan kacamata class-struggle. Adakah yang bersedia?)

Yang saya cermati dan rasakan akhir-akhir ini adalah, munculnya Mati Rasa? Saya tak tahu apakah anda tidak merasakannya, atau, tidak tahu kalau merasakannya juga.

Dengan alasannya masing-masing, kita buka link video-video tersebut saat kita menemukannya di social media. Sembari tonton, hati kitapun tersentuh dan tergerak untuk melakukan sesuatu —diawali dengan mengklik ‘Like’ lalu diakhiri dengan ‘Share’. Mengajak lebih banyak orang lagi untuk melihat video tersebut dan mengenal cause yang video-video tersebut ingin sebarkan (atau secara tak sadar mungkin kita menganggap bahwa dengan menyebarkan video-video tersebut adalah kita bisa berkontribusi —setidaknya dalam kadar ‘paling tidak’).

Siklus yang sama berkali-kali setiap kali kita menemukan video-video baru lainnya: Klik linknya—tonton dan terinspirasi/tersentuh/tersentak—sebarkan lagi—lalu menemukan lagi link video yang lain entah kapan—dan terus terulang lagi siklus yang sama.

Sampai rasanya menjadi “terinspirasi, tersentuh, atau tersentak” jadi tak berarti lagi.

Tak salah untuk pembuat video-video tersebut menyebarkan misinya tentu saja. Dan tak salah juga kita sebagai audiens pasif-menjadi-aktif untuk mengkonsumsi video-video tersebut dan membantu menyebarkannya.

Tapi entah mengapa tercium sedikit hypocrisy. Mengingatkan saya pada ucapan Oscar Wilde pada teks politiknya, The Soul of Man Under Socialism:

“… it is much more easy to have sympathy with suffering than it is to have sympathy with thought.”

Yang Wilde ingin sampaikan pada sajak tersebut, menurut Slavoj Zizek, adalah kita sebagai sebuah society seringnya menghancurkan dengan tangan kiri apa yang kita bangun dengan tangan kanan.
Gambaran sederhananya seperti berikut: dalam lingkaran yang sama kita mendonasikan “roti” kepada Mereka yang tak bisa makan. Padahal produksi roti tersebut adalah alasan utama mengapa mereka tidak bisa makan dan harus hidup melarat (misalnya pabrik roti tersebut mengambil lahan tanah tempat mata pencaharian hidup Mereka secara cuma-cuma sampai habis).

Bahwa kita membutuhkan perombakan yang lebih masif yang bukan sekedar ‘paling tidak’.

Disambungkan dengan fenomena video-video #Save tersebut, seolah-olah bukannya aktif, kita sebagai audiens justru menambah kepasifan kita terus memutar lingkaran “roti” tadi.

Hal tersebutlah yang membuat saya sadar adanya dilema. Apakah kita harus sampai pada titik dimana kita Mati Rasa, lalu baru bertanya apakah kita membutuhkan perombakan yang lebih radikal —jika memang kita ingin #save Mereka—daripada sekedar terus menerus memutar lingkaran dan siklus tadi?

Tentu perombakan yang total pada sistem tak akan terjadi dalam semalam. Yang bisa terjadi adalah perombakan pada inti individual-individual yang ada di dalamnya.

Dan mungkin Mati Rasa adalah proses pertama dari perombakan tersebut.